I’m tired of being what you want me to be
Feeling so faithless, lost under the surface
I don’t know what you’re expecting of me
Put under the pressure, of walking in your shoes
(Caught in the undertow, just caught in the undertow)
Every step that I take is another mistake to you
(Caught in the undertow, just caught in the undertow)

[Chorus:]
I’ve become so numb
I can’t feel you there
Become so tired, so much more aware
I’m becoming this, all I want to do
Is be more like me and be less like you

Can’t you see that you’re smothering me?
Holding too tightly, afraid to lose control
‘Cause everything that you thought I would be
Has fallen apart, right in front of you
(Caught in the undertow, just caught in the undertow)
Every step that I take is another mistake to you
(Caught in the undertow, just caught in the undertow)
An’ every second I waste is more than I can take

[Chorus: Repeat]

And I know
I may end up failing too
But I know
You were just like me
With someone disappointed in you

[Chorus: Repeat]

I’ve
Become so numb
I can’t feel you there
I’m tired of being what you want me to be (x2)

My ParEnts

May 12, 2009

Orang Tua diMata w Segalaya…..

Dimana dia Bisa jadi sahabat ‘n Jadi seseorang yAng g Dpat tergaNtikn oLeh apapun,,,, W sebagai anak merasa berhutang budi kepadanya… Entah bagaimana caranya w membaLas. yang jeLas cuma 1 yang bisa w Lakuin Untuk Mereka… Yaitu Berbakti dan selalu jadi yang terbaik dimatanya.

Profil

Avril Lavigne dilahirkan disebuah kota kecil, Napanee, Ontario dalam lingkungan keluarga Kristen. Kemampuan Avril dalam bernyanyi telah diketahui sejak ia berumur 2 tahun, ketika ibunya mengatakan bahwa Avril telah mulai ikut menyanyi lagu-lagu rohani di gereja. Keluarga Avril pindah ke Napanee saat dia berumur 5 tahun.

Pada tahun 1998, Avril memenangkan kompetisi bernyanyi dalam tour resmi penyanyi Kanada, Shania Twain. Avril menyanyikan lagu Shania yang berjudul What Made You Say That.

Saat usia Avril menjelang 16 tahun, dia didaftarkan oleh Ken Krongard, seorang artis dan jurnalis, wakil dari perusahaan rekaman Arista. Ken mengundang Antonio “L.A.” Reid untuk mendengarkan nyanyian Avril disebuah studio rekaman milik Peter Zizzo di New York. Selanjutnya Avril melengkapi kontrak album perdananya, Let Go.

Keluarga

  • John Lavigne (ayah)
  • Judy Lavigne (ibu)
  • Matt Lavigne (kakak laki-laki)
  • Michelle Lavigne (adik perempuan)

Karir Musik

Album pertama Avril, Let Go, dirilis pada tanggal 4 Juni 2002 di Amerika Serikat, menduduki posisi 2 disana, dan menduduki posisi 1 di Australia, Kanada, Inggris, dan beberapa negara lainnya, dengan hits singel lagu Complicated.

Ditahun 2004, tepatnya tanggal 25 Mei 2004, Lavigne merilis album kedua yang bertitel Under My Skin dengan hits singel lagu Don’t Tell Me. Album ketiga Avril, The Best Damn Thing dirilis pada tanggal 17 April 2007 dengan hits singel lagu Girlfriend

Karir Film

Avril tampil dalam film awalnya dalam film Over The Hedge sebagai pengisi suara, dimana film ini berdasarkan komik yang berjudul sama. Dia bekerja sama dengan William Shatner, Bruce Willis, Garry Shandling, Wnda Sykes, Nick Nolte dan Steve Carrel. Dia juga beraksi dalam film karya Richard Gere berjudul The Flock, sebagai kekasih dari seorang pelaku kejahatan, dan proyek ketiganya adalah Fast Food Nation, berdasarkan buku favoritnya. Avril menulis dan kemudian merekam lagu ciptaannya berjudul “Keep Holding On” dengan Dr. Luke, untuk soundtrack dari film Eragon, yang kemudian lagu ini terdapat dalam album ketiga Avril, The Best Damn Thing. Lagu ini dirilis sebagai versi download digital pada tanggal 28 November 2006, dengan debut perdana diseluruh dunia pada tanggal 17 November 2006. Menduduki posisi #2 dalam tangga lagu Kanada.

Avril membuat sebuah batu bertulisan dalam film Going The Distance dan juga sempat tampil dalam sebuah episode film Sabrina, the teenage witch, menampilkan lagu “Sk8er Boi”dengan band-nya.

Dunia akting

Lavigne kini juga mulai menjajal kemampuan beraktingnya. Debut film pertamanya berjudul “The Flock”, sebuah film drama kriminal, akan syuting di Meksiko. Di film ini Avril Lavigne akan beradu akting bersama Richard Gere dan Claire Danes. Selain itu, Avril Lavigne juga turut mengisi suara dalam sebuah film animasi berjudul “Over The Hedge”. Film ini disutradari oleh Richard Linklater, serta akan menampilkan William Shatner dan Bruce Willis. (sumber: www.contactmusic.com) Avril Lavigne juga pernah muncul di film Going The Distance untuk penampilan sesaat. (sumber: www.amazon.com)

Don’t wanna be an American idiot.
Don’t want a nation under the new mania.
And can you hear the sound of hysteria?
The subliminal mind fuck America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn’t meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We’re not the ones who’re meant to follow.
For that’s enough to argue.

Well maybe I’m the faggot America.
I’m not a part of a redneck agenda.
Now everybody do the propaganda.
And sing along in the age of paranoia.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn’t meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We’re not the ones who’re meant to follow.
For that’s enough to argue.

Don’t wanna be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It’s calling out to idiot America.

Welcome to a new kind of tension.
All across the alienation.
Everything isn’t meant to be okay.
Television dreams of tomorrow.
We’re not the ones who’re meant to follow.
For that’s enough to argue.

I’m standing on a bridge
I’m waiting in the dark
I thought that you’d be here by now
There’s nothing but the rain
No footsteps on the ground
I’m listening but there’s no sound

Isn’t anyone tryin’ to find me?
Won’t somebody come take me home
It’s a damn cold night
Trying to figure out this life
Wont you take me by the hand
Take me somewhere new
I don’t know who you are
But I… I’m with you
I’m with you

I’m looking for a place
Searching for a face
Is anybody here I know
‘Cause nothing’s going right
And everything’s a mess
And no one likes to be alone

Isn’t anyone trying to find me?
Won’t somebody come take me home
It’s a damn cold night
Trying to figure out this life
Wont you take me by the hand
Take me somewhere new
I don’t know who you are
But I… I’m with you
I’m with you

Oh why is everything so confusing
Maybe I’m just out of my mind
Yeah yeah yeah…

It’s a damn cold night
Trying to figure out this life
Won’t you take me by the hand
take me somewhere new
I don’t know who you are
But I… I’m with you
I’m with you

Take me by the hand
Take me somewhere new
I don’t know who you are
But I… I’m with you
I’m with you

Take me by the hand
Take me somewhere new
I don’t know who you are
But I… I’m with you
I’m with you
I’m with you..

My BirhtDay

May 10, 2009

Hri uLtah w 2 thun yg  Lalu skitar thun 2007,  g’ kn bsa dLpakn!!

sahabat” w, smua buat w ga kn bsa ngelupain mreka…..

mreka buat kjutan yg mungkin buat w fobia dg pa yg mreka lakukan itu…tpi w seneng bgt krna tu hal yg smpai skrang ga bsa w Lpain

My Plend

May 10, 2009

obBy sahabat w yang ada di Bandung….

Kapan ya Qt bsa ktemu ‘n kpan u ksni?? Tman” kangen ni ma u,,, kta ny kalau SMA mau di jkt tpi kok ga jd siiii.

oby tw ga si w kangen !! Bnyk yg ga bsa w Lupain dr u.. dLu u tuh sering bgt berabtem ma w…. tpi smenjak u ga da w sepi….

oh…ya hadiah dri u msh da loh

ReuNian Nehhh

May 10, 2009

Enak ya wkTu ReunIan ma Tman”  SD….

Tpi Syang Ga Smua nya Hdir. PadahAL w KnGen Bgt mA mreka!!! Apalagi ma sahaBat w (ira, ainun,dewi ,intan ‘n Syifah)….

pokok’a I MISS U aLL

MENGENAKAN pakaian kumal dan kumuh, sekitar 10 anak Sekolah Dasar Khusus Pasar Lama Kota Banjarmasin dari kelas I sampai kelas V mengikuti pelajaran di satu ruangan. Rambut mereka terlihat awut-awutan pertanda jarang keramas.

Tidak ada yang mengenakan seragam di sekolah itu. Semua anak bebas mengenakan pakaian yang mereka miliki. Masalahnya, anak-anak di sekolah tersebut tidak memiliki pakaian bersih dan layak pakai.

Mereka hanya menggunakan pakaian harian yang biasa dipakai untuk bermain, bekerja, dan tidur malam. Sebagian anak di kelas tersebut memang “sudah bekerja”, ada yang mencari kardus di pasar dan ada pula yang menjadi pengupas bawang, bahkan ada yang menjadi anak jalanan.

JUMLAH siswa yang hari itu masuk sekitar 10 anak terdiri dari kelas I hingga kelas V. Di pekan pertama tahun ajaran baru dan di saat semua anak “dimanja” dalam rangka memperingati Hari Anak, di kelas tersebut tak ada yang sempat bermanja-manja, semua terlihat kusam, tak ada buku baru, tas baru, apalagi baju baru.

Hari itu tahun ajaran baru, semua berlangsung apa adanya, tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. “Yang masuk sedikit, memang seperti ini keadaannya karena mereka banyak yang bekerja,” kata M Husaini, guru yang mengajar di kelas tersebut.

Husaini mengatakan, murid kelas I hingga kelas V jumlahnya mencapai 30 anak. Walaupun anak-anak banyak yang tidur di pasar dan di sekolah tersebut, namun karena mayoritas adalah gelandangan, anak jalanan, dan anak dari keluarga tak mampu, mereka banyak yang tidak masuk karena harus kerja.

“Kebanyakan anak-anak itu menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Karena itu, banyak yang sering tidak masuk karena harus bekerja. Anak- anak biasanya masuk sekolah jika mereka dijanjikan akan mendapat hadiah,” kata Husaini.

Bangunan sekolah khusus itu berada di Lantai II Pasar Lama Banjarmasin. Lokasinya di tengah-tengah kota. Namun demikian belum tentu kepala dinas pendidikan, wali kota, atau gubernur mengetahui sekolah itu.

“Ini adalah sekolah yang terlupakan,” kata Husaini. Anak-anak di kelas itu tampak akrab dengan guru yang kini seperti orangtua asuh mereka.

SD Khusus Pasar Lama yang resminya bernama Sekolah Khusus Filial SD Negeri I Mawar Banjarmasin Tengah itu berdiri sejak tahun 1988. “Yang memprakarsai adalah Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan almarhum Drs Samsi,” kata Husaini.

Sekolah khusus itu membawa misi mendidik anak-anak jalanan yang rata- rata tunawisma di sekitar pasar itu. Misi lain adalah bagaimana mengerem munculnya preman-preman kecil yang kelak akan menjadi preman besar di pasar tersebut.

“Dulu di pasar ini banyak premannya, mulai preman kecil sampai preman besar, mereka biasa mencuri dan mencopet,” kata Husaini. Kini setelah sekolah tersebut berdiri angka premanisme di pasar tersebut turun drastis.

“Coba tanya ke toko-toko apakah mereka sekarang masih sering menggergaji pintu karena kunci pintunya dirusak preman? Sekarang sudah tidak lagi, pendidikan ini menekankan perubahan perilaku dan akhlak yang baik,” katanya.

Husaini berprinsip misi mendidik anak-anak adalah mengubah sikap kerja dari “etos kerja mencuri” menjadi “etos kerja mencari”. “Sudah banyak yang berhenti mencuri,” kata Husaini.

Seorang anak kelas V, Jumbri, saat ini mencari kardus untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Satu hari dapat sekitar Rp 10.000,” katanya.

ANAK-anak lain kini juga bekerja setiap hari mencari kardus atau mengupas kulit bawang merah. Ada juga yang mencari bawang merah jatuh di pasar, dikumpulkan, kemudian dijual.

Hidayatullah, siswa kelas V lainnya, mengatakan, dulu banyak kawan-kawannya yang suka berbohong dan berprofesi sebagai pencopet. “Sekarang mereka banyak yang berhenti, tak ada lagi yang seperti itu,” katanya.

Di tengah gegap gempita komersialisasi pendidikan, sekolah khusus itu tetap berjalan walau terengah-engah. “Saya hanya digaji Rp 100.000 per bulan. Kalau bukan karena panggilan moral, saya tidak akan mengajar di sini,” kata Husaini, pensiunan guru di SDN I Mawar. (amr)

Home sChooling

May 10, 2009

PENDIDIKAN HOME SCHOOLING … ? SUDAH ADAPTIFKAH DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh : Andi Trinanda

Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik.  Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Walaupun bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning, namun memang ada kecenderungan bahwa home schooling agak “berbeda” jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling memang an-sich mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hoby individual (baca : siswa) dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi link & mach memang cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model ini. Apalagi jika kalangan dunia industri sudah menjalin kerja sama dan membangun hubungan dengan lembaga pendidikan home schooling misalnya mengenai pola standard alternatif bagi kompetensi para lulusan (baca : dalam hal ijasah dan nilai) yang selama ini menjadi domainnya pemerintah.

Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di “hantui “oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif “aman” buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Memang selama ini bagi sebagian kalangan praktisi pendidikan, mereka menjustifikasi bahwa kebutuhan kompetensi tersebut tetap menjadi skala prioritas yang harus terus dikembangkan dalam setiap jenjang kurikulum. Melalui kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dan sekarang berubah lagi menjadi kurikulum berbasis pengetahuan terpadu ditambah kurikulum lokal yang terus berganti. Konsep dan desain penerapan kurikulum tersebut dilakukan dengan pendekatan pemikiran dan teori tentang kecerdasan berganda, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan asumsi bahwa mereka (baca : para pakar dan praktisi pendidikan) menganggap bahwa setiap insan haruslah perlu diakui dan dihargai modalitas belajarnya. Para praktisi pendidikan menerapkan desain konsep pendidikan dalam berbagai strata dengan berupaya mengelaborasi tingkat intelektualitas ide dan gagasan akademiknya dengan pendekatan teoritical education an sich. Kecenderungan teoritical yang intens tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan problematik teoritis dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya bisa kita lihat dari terlalu seringnya kurikulum berganti tanpa visi baik content maupun format penerapannya di lapangan.  Akibatnya pula bukan cuma para guru yang kesulitan mengintepretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang dibuat pemerintah, para siswa pun akhirnya “terbelenggu”untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut tanpa reserve. Kasus kontroversi output penerapan standard kelulusan untuk siswa yang baru-baru ini terjadi semakin menjadi salah satu pemicu kuat bagaimana persoalan standard dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting mengapa masyarakat mulai beralih untuk lebih jauh melihat standard bukan secara lokal namun sudah jauh ke standard yang lebih bersifat mondial misalnya standard Amerika sampai standard ketaraf Internasional semisal lembaga pendidikan yang menerapkan sistem ISO dalam program pendidikannya. Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan home schooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal home schooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah.

Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan home schooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & mach dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan home schooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Seperti halnya program pendidikan home schooling ini yang nota bene jelas tidak menspesifikasikan diri pada aspek sosialisme interaksi dan proses transformasi budaya dan sifat komunitas, namun cenderung individualistik.

* Penulis adalah praktisi pendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi sawsta di Jakarta . Disamping mengajar juga aktif sebagai ketua kelompok studi “SEMBILAN” di Jakarta.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.